Turki Jadi Rumah Baru Untuk Oligarki dan Miliarder Rusia

Kekayaan oligarki dan miliarder Rusia sedang mencari rumah baru. Bak gayung bersambut, Turki dengan kencang membuka pintu bagi para orang kaya ini.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kalau negaranya akan menyambut oligarki Rusia yang terkena hukuman ke negara itu sebagai turis dan pemodal. Ini selama urusan bisnis mereka mematuhi tata tertib internasional.

Menginformasikannya situs CNBC, Rabu (30/3/2022), itu terjadi sehari sesudah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa “kategori modal tertentu” bisa “memarkir fasilitas mereka bersama kami.”

Pernyataan Erdogan seakan menjadi rujukan lantas menyambut kedatangan sebagian aset mewah milik Rusia di Turki baru-baru ini, termasuk dua aset mewah adalah yacht dan jet pribadi milik miliarder Roman Abramovich.

Komentar hal yang demikian sudah memicu spekulasi bahwa Turki—negara non-Uni Eropa melainkan member NATO—mungkin secara aktif mensupport investasi dari miliarder yang masuk daftar hitam sebab berupaya menyangga ekonominya yang diperangi. Di sisi lain, orang kaya Rusia secara aktif mencari investasi di sana.

Tapi tiap profit prospektif bisa menjadi pandangan pendek bagi sebuah negara yang memegang perbuatan penyeimbangan yang kompleks antara Rusia dan Barat.

“Menarik uang Rusia bisa merugikan Turki dalam rentang panjang,” terang Direktur Senior di Dewan Atlantik di Turki dan eks ekonom untuk Kedutaan Besar AS di Ankara, Defne Arslan terhadap CNBC.

Turki tampak berupaya untuk mengambil garis tipis dalam perang yang sedang berlangsung di Ukraina.

Walaupun sempat mengkritik invasi Moskow yang tak berdalih, Turki sudah stop memakai hukuman seperti yang dijatuhkan oleh AS, UE, Inggris, dan lainnya, dengan mengatakan bahwa pada prinsipnya menyangkal perang.

Sebaliknya, negara ini sudah mengadopsi peran mediator netral, memfasilitasi diskusi tenteram antara Rusia dan Ukraina.

Perundingan di Istanbul pada hari Selasa tampaknya meningkatkan kemauan akan terobosan sesudah Moskow sepakat untuk menghentikan serangan militernya di Kyiv dan Chernihiv.

Sementara negosiator Ukraina mengusulkan untuk mengadopsi status netral dengan imbalan jaminan keamanan.

Bersikap Netral

Sikap netralitas nominal Turki beberapa besar dipahami mengingat kekerabatan ekonomi dan diplomatiknya yang erat dengan Rusia, secara khusus mengenai tenaga, pertahanan, perdagangan, dan pariwisata.

Dengan demikian, sekutu Barat tak menekan Turki untuk turut memberikan hukuman, mereka juga tak akan menghukumnya sebab tak mengerjakannya.

Itu menjadikannya pos paling depan yang legal untuk aset milik Rusia yang terkena hukuman. Memang, masuknya investasi asing dan aset mewah bisa memberikan profit bagi ekonomi Turki yang terkepung, yang tergelincir ke mode krisis pada September.

Krisis akibat penurunan suku bunga yang tak umum mensupport inflasi yang telah melonjak lebih tinggi.

“Melainkan, toleransi Barat kemungkinan akan berkurang kalau Turki mulai secara aktif minta kekayaan yang dikenai hukuman,” berdasarkan Emre Peker, Direktur dan Spesialis konsultan risiko politik Eurasia Group di Turki.

 

Posted on

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *